Proses Morfofonemik Pembentukan Kata Berkonfiks dalam Bahasa Minangkabau

Zona Rida Rahayu

Abstract


This study aims to explain the morphophonemic process of word formation with confixes in the Minangkabau language. The study uses a qualitative ethnographic approach with a descriptive method. Data were obtained from direct speech by women in Bakureh activities in Solok City, Lubuk Sikarah District, through in-depth observation and participatory interviews supported by recordings and field notes. The validity of the data was tested using triangulation techniques. The results of the study indicate that confixes are simultaneous, namely affixes are attached simultaneously to the base word, so that the separation of one element results in a meaningless form. The morphophonemic process includes (a) consonant melting, such as /s/ and /h/ become /ny/ or disappear, /k/ becomes /ng/, /p/ becomes /m/, and /t/ becomes /n/; (b) variations in the prefix paN- which changes to pan-, pam-, pany-, pang-, and par- according to the initial phoneme of the base word; and (c) maintenance of phonological structure without significant phonemic changes. Minangkabau confixes are productive because they can be attached to various word classes and produce a variety of grammatical meanings. This finding contributes to the documentation of Minangkabau vocabulary as part of regional language preservation.

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menjelaskan proses morfofonemik pembentukan kata berkonfiks dalam bahasa Minangkabau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif etnografis dengan metode deskriptif. Data diperoleh dari tuturan langsung perempuan dalam kegiatan Bakureh di Kota Solok, Kecamatan Lubuk Sikarah, melalui observasi mendalam dan wawancara terlibat yang didukung perekaman serta catatan lapangan. Keabsahan data diuji menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfiks bersifat simultan, yakni afiks melekat secara serentak pada kata dasar, sehingga pemisahan salah satu unsur menghasilkan bentuk tidak bermakna. Proses morfofonemik meliputi (a) peluluhan konsonan, seperti /s/ dan /h/ menjadi /ny/ atau hilang, /k/ menjadi /ng/, /p/ menjadi /m/, serta /t/ menjadi /n/; (b) variasi prefiks paN- yang berubah menjadi pan-, pam-, pany-, pang-, dan par- sesuai fonem awal kata dasar; dan (c) pemertahanan struktur fonologis tanpa perubahan fonemik yang signifikan. Konfiks bahasa Minangkabau bersifat produktif karena dapat melekat pada berbagai kelas kata dan menghasilkan keragaman makna gramatikal. Temuan ini berkontribusi pada pendokumentasian kosakata bahasa Minangkabau sebagai bagian dari pelestarian bahasa daerah.


Keywords


Bahasa Minangkabau; Konfiks; Morfofonemik

Full Text:

PDF

References


Afria, R., & Putri, Y. (2022). Reduplikasi Bahasa Minangkabau di Desa Kurnia Koto Salak Kecamatan Sungai Rumbai: Kajian Morfologi. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 6(1), 72–79.

Alwi, H. (2017). Tata Bahasa Baku Indonesia (Keempat). Balai Pustaka.

Angelita, T., Oktaviana, M., & Ginanjar, B. (2022). Proses Morfologis dalam Bahasa Minang Dialek Simpang Empat di Pasaman Barat. Hasta Wiyata, 5(2), 29–34.

Abra, A. (2004). Bahasa Minang Populer (Minang Taseba). PT Rumpun Dian Nugraha.

Ayub, A., Husin, N., Muhardi, M., Usman, A. H., & Yasin, A. (1993). Tata Bahasa Minangkabau. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Bungin, B. (2010). Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Fajar Interpratama Offset.

Chaer, A. (2008). Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Rineka Cipta.

Creswell, J. W. (2008). Educational Research, Planning, Conductiong, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Pearson Merril Prentice Hall.

Delva, R. (2018). Bakureh Projek. Gubuak Kopi.

Deterding, D., Gardiner, I. A., & Noorashid, N. (2022). The phonetics of Malay. Cambridge University Press.

Firman, A. D. (2017). Morfofonemik dalam Afiksasi Bahasa Moronene (Morphophonemic in Affixation of Moronene Language). Widyaparwa, 45(1), 47—67. https://doi.org/10.26499/wdprw.v45i1.201

Haryoko, S. (2020). Analisis Data Penelitian Kualitatif (Konsep,Teknik, & Prosedur Analisis). Sapto Haryoko.

Kartika, S., Charlina, & Burhanudin, D. (2021). Bound Morphemes of Riau Malay Language in Tanjung Balai Karimun Dialect: A Morphological Study. Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra, 12(1), 55–65.

Kridalaksana, H. (2009). Kamus Linguistik (Keempat). Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, H. (2010). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (Enam). PT Gramedia Pustaka Utama.

Kusmana, A. & Triandana, A. (2022). Perubahan Fonem dalam Morfofonemik Bahasa Melayu Jambi di Kecamatan Danau Teluk. In International Conference on Malay Identity, 3, (180–185). Universitas Jambi

Lestari, S. (2022). Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. CV Eureka Media Aksara.

Lisa, B. I. F. & Abidin, Z. (2020). Proses Morfofonemik Sapaan dalam Bahasa Melayudialek Belide Desa Jambu Kecamatan Gelumbang. Parataksis: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran Bahasa Indonesia, 3(2), 140–151. https://doi.org/10.31851/parataksis.v3i2.4766

Moussay, G. (1998). Tata Bahasa Minangkabau (XIII). Populer Gramedia.

Muslich, M. (2010). Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Bumi Aksara.

Nurlela. (2016). Fonologi dan Morfologi Bahasa Minangkabau. Universitas Andalas Press.

Rahayu, Z. R. (2015). Kesantunan Tindak Tutur Ekspresif dalam Berbahasa Minangkabau di Terminal Angkutan Umum Kota Solok. Jurnal Humaniora, 10, 936—950.

Rahayu, Z. R. (2022). Makna Emotif dalam Debat Publik Putaran Pertama Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Solok Tahun 2020. Jurnal Edukasi dan Literasi Bahasa, 3(1), 202–212.

Rahayu, Z. R. (2023). Proses Pembentukan Kata Menggunakan Prefiks dalam Bahasa Minangkabau. Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 5(2), 113–127. https://doi.org/10.26499/bahasa.v5i2.665

Rahayu, Z. R., & Putri, M. (2023). Pengantar Bahasa Indonesia OBE (Outcome-Based Education). Mafy Media Literasi Indonesia.

Ramadhani, N. N. (2018). Penyerapan Kosakata Bahasa Daerah dalam KBBI V. BAPALA, 5(2), 1—6.

Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. CV Karyono.

Rizal, Y., & Rosa, R. N. (2013). The Grammatical Meaning of Prefix Basi-In Minangkabau Language Spoken in Batipuh Selatan. English Language and Literature, 1, 89.

Syamsarul. (2013). Kamus Bahasa Indonesia-Minangkabau: Edisi Revisi. Balai Bahasa Sumatera Barat.

Sew, J. W. (2025). Variasi Fonetik dan Fungsi Wacana Perkataan Baharu: Analisis Morfofonemik dan Stilistik dalam Bahasa Melayu. Jurnal Pengajian Melayu, 36(1), 1–19.

Spradley, J. P. (2007). Metode Etnografi (terjemahan: Misbah Zulfa Elizabeth). Tiara Wacana.

Ulya, R. H., Gani, E., & Noveria, E. (2022). Ethnolinguistic Perspective: Correlational Superstition and Sumbang Duo Baleh Minangkabau Society. In Proceedings of the 5th International Conference on Language, Literature, and Education (ICLLE-5 2022), 157–167. https://doi.org/10.2991/978-2-494069-85-5




DOI: https://doi.org/10.26499/bahasa.v7i3.1604

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Bahasa: Jurnal keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia is indexed at: 
 
 
 
Publisher by:

Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya with Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI)
 

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 
Sekretariat: 

 Apartemen Suite Metro

Jalan Soekarno Hatta No. 698B, Kelurahan Jatisari - Kecamatan Buahbatu Bandung, Jawa Barat 40286